Sebuah Kisah dari Abu Hurairah

Pada postingan sebelumnya kami telah memposting "Bila waktu tobat berakhir", sekarang kisah renungan islami kembali menyajikan "Sebuah kisah dari abu hurairah".

Abu Hurairah mengatakan bahwa seseorang jatuh sakit parah. Teman-temannya duduk mengelilinginya. Tiba-tiba orang itu pingsan. Karena menganggap telah meninggal, orang-orang di sekelilingnya menutupinya dengan selembar kain dan menutup matanya. Ketika mereka akan memandikannya, dia bergerak. Mereka memandanginya dengan rasa heran dan memberitahukan bahwa mereka telah menganggapnya meninggal. Mendengar hal itu, dia memberitahukan bahwa benar dia telah meninggal. Setelah mati, dia dibawa ke kubur. Seorang pemuda tampan dengan bau wewangian meletakkannya di dalam kubur. Tapi tiba-tiba, seorang perempuan hitam dan kotor muncul. Perempuan itu mulai menunjukkan kesalahan-kesalahannya satu demi satu, sehingga dia menundukkan kepalanya, karena malu. Dia bertengkar dengan perempuan itu tentang kesalahan-kesalahannya. Akhirnya, perempuan itu berkata bahwa perselisihan mereka akan diselesaikan di tempat lain nanti. Dia mengikuti perempuan itu dan memasuki sebuah rumah yang luas yang memiliki lantai tinggi yang berkilauan. Sebuah masjid berdiri di salah satu pojokannya dan ada orang yang sedang shalat, dia membaca surah an-Naml, tetapi berhenti di tengah-tengah surah, karena terlupa. Dia membantu laki-laki itu meluruskan ayat tersebut. Setelah menyaksikan shalatnya, laki-laki itu bertanya kepadanya apakah dia hafal surah itu. Dia membenarkan. Mendengar hal itu, laki-laki tersebut mengeluarkan sebuah buku dari bantalnya dan mulai membacakannya. Ketika itu perempuan hitam juga ada di sana dan mulai menunjukkan perbuatan buruknya satu demi satu. Laki-laki yang tampan dan berbau wangi juga datang dan menyangkal perempuan itu, dengan menyebutkan segala perbuatan baiknya. Mendengar hal itu, salah seorang yang ada di masjid mengumumkan bahwa meskipun dia membuka dirinya terhadap segala risiko, tetapi Allah telah mengampuni kelalaian-kelalaiannya dan menambahkan bahwa kematiannya belum juga datang dan bahwa dia akan meninggal pada hari Senin.


Abu Hurairah mengatakan bahwa laki-laki yang sakit itu mengatakan kepada mereka, kalau dia meninggal pada hari Senin menurut bisikan Ilahiah, dia yakin bahwa yang telah dilihat laki-laki itu adalah benar dan dosa-dosanya akan diampuni. Jika kematiannya tidak terjadi di hari Senin, mereka harus menganggap apa yang telah dilihatnya adalah hanya sekadar mimpi tak berarti. (Ibn Abi Dunya).

Bila Waktu Tobat Berakhir

Kisah renungan islami - Bila waktu tobat berakhir. 

Merujuk kepada tafsir tentang tsumma yatuubuuna min qaribe (mereka menunjukkan penyesalan ketika kematian semakin dekat) dikatakan bahwa waktu bertobat akan berakhir segera setelah munculnya malaikat maut di depan orang yang sekarat.

Bakr ibn Abdullah mengatakan bahwa waktu bertobat amat panjang, tetapi ia akan berakhir dengan munculnya malaikat maut, ketika seseorang kehilangan kesadarannya (Ibn Abi Dunya).
Muawiyah ibn Abu Sufyan berkata bahwa Nabi bersabda, di antara Bani Israel, ada seorang pendosa yang telah melakukan 77 kasus pembunuhan. Ketika kesadaran menyapanya, dia datang kepada seorang rabi (orang yang mengetahui agama). Dia mengaku bahwa tidak ada dosa yang belum dia lakukan dan dia telah membunuh 77 manusia yang tidak berdosa. Lalu dia menanyakan kepada rabi tersebut apakah masih ada kesempatan baginya bertobat. Rabi itu berkata bahwa hanya ada sedikit kemungkinan dia diampuni. Dia begitu kecewa mendengar hal itu, sehingga ia membunuh rabi tersebut dan pergi. Lalu dia mengunjungi rabi yang lain dan mengakui dosa-dosanya kepada rabi tersebut. Dia bertanya kepadanya, apakah dia dapat membimbing pertobatan atas dosa-dosanya itu. Rabi menjawab tidak. Karena kecewa, dia lalu mebunuh rabi itu dan pergi. Dia mendatangi rabi lainnya, mengakui dosa-dosanya, dan bertanya jika tobatnya dapat diterima. Rabi itu pun menjawab tidak. Begitu mendengar jawaban tidak, ia segera membunuhnya. Dia terus mencari rabi untuk menanyakan kemungkinan melakukan tobat. Tapi semua rabi yang ditemuinya mengatakan tidak mungkin, hingga ia melakukan seratus pembunuhan.

Mungkin anda tertarik untuk membaca: Gambaran dan kondisi alam barzakh

Setelah itu, dia masih bertekad menemui seorang rabi lainnya. Dia lalu mengakui dosa-dosa kepada rabi tersebut dan bertanya apakah dia akan mendapat ampunan. Rabi itu menjawab dengan tenang. Adalah salah jika kita mengatakan bahwa Tuhan tidak menghampiri mereka yang memohon ampunan-Nya. Lalu, orang itu meminta rabi tersebut memintakan ampunan baginya. Rabi itu kemudian menasihati-nya agar memperbaiki jalan hidupnya. Dia menyarankannya agar pergi ke sebuah tempat dan tinggal bersama orang-orang yang baik. Dia hampir mencapai setengah perjalanannya, ketika para malaikat mencabut nyawanya. Setelah kematiannya, malaikat rahmat dan malaikat azab mulai berselisih tentang siapa yang harus mengangkat jenazah itu. Ketika itu, muncullah malaikat ketiga dan memutuskan bahwa mereka harus mengukur jarak antara tempat berangkatnya dan tujuannya. Kalau dia berada lebih dekat ke tempat tujuannya, dia harus dianggap orang beriman. Jika sebaliknya, maka ia termasuk orang berdosa. Ketika jarak tersebut diukur, ternyata dia berada satu jengkal lebih dekat kepada tempat tujuannya. Karenanya, dia lalu mendapatkan ampunan dan diangkat malaikat rahmat. (Abu Na’im).

Demikian kisah ini, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua. Baca juga "Kehadiran malaikat maut saat kematian"

Kehadiran Malaikat Pada Saat Kematian

Pada posting sebelumnya Kisah renungan islami telah mempost "Para malaikat menciumi orang yang meninggal" dan kali ini kisah tentang kehadiran malaikat pada saat kematian.

Hasan ibn Saleh menyatakan bahwa pada malam kematian saudaranya, Abi ibn Saleh, saudaranya memintanya agar diambilkan segelas air penuh. Setelah menyelesaikan shalatnya, dia memberikan air yang dimintanya itu. Tetapi saudaranya berkata bahwa dia telah meminumnya. Dia heran siapa yang telah memberinya segelas air minum sementara tidak ada orang lain di rumah itu. Abi ibn Saleh berkata bahwa jibril baru saja menjenguknya, dan setelah memberinya segelas air, dia memberikan kabar gembira bahwa dia, saudara laki-lakinya dan ibunya berada di antara orang-orang yang dikucurkan rahmat Allah, dan termasuk dalam kelompok Siddiqin, Syahidin dan Salihin. (Ibn Sandab).

Abd ar-Rahman ibn Ghanam al-Asy’ari mengatakan bahwa anak laki-laki Mu'adz ibn Jabal meninggal karena wabah penyakit di Amwas (sebuah tempat di Suriah). Ketika kematian anaknya, Mu'adz menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Tetapi dalam sebuah pertempuran ketika dia terkena tombak seorang kafir dan saat hampir meninggal, dia berkata: "Teman telah datang membantu. Penyesalan seorang laki-laki yang meninggalkan teman yang membutuhkannya, tidak akan pernah berhasil." Abdur Rahman berkata, ketika dia mendengar kalimat aneh ini, dia bertanya kepada Mu'adz apakah dia melihat sesuatu. Mu'adz membenarkan dan berkata bahwa Tuhan telah menganugerahi kehormatan kepadanya karena menunjukkan kesabaran yang luar biasa pada saat kematian anaknya. Dia menambahkan bahwa anaknya telah datang kepadanya dan memberikan kabar gembira. Nabi beserta para malaikat terkemuka, syuhada dan para sahabatnya yang saleh, dalam ratusan barisan, akan mengadakan shalat jenazah untuk memberkati arwahnya dan kemudian mengiringinya ke surga. Setelah mengucapkan kata-kata ini, dia pingsan. Ketika dia tidak sadarkan diri, orang-orang melihatnya berjabat tangan. Mu'adz pun berkata: "Selamat datang. Selamat datang. Aku datang kepadamu." Begitu mengucapkan kata-kata ini, dia lalu meninggal dunia. Abdur Rahman mengatakan bahwa setelah kematian Mu'adz, dia melihat dalam mimpinya bahwa Mu'adz dikelilingi sejumlah orang yang berpakaian putih, menaiki kuda, dan berdiri di tengah-tengah kumpulan orang-orang itu. Dia mengangkat sebuah bendera yang bertuliskan: "Inilah pahala bagi mereka yang menanggung bencana dan duka dengan penuh kesabaran." Dia juga terlihat sedang membacakan sebuah syair: "Segala puji bagi Allah yang menepati janji-janji-Nya dan menjadikan kita pemilik kediaman ini. Kita dapat tinggal di surga ini, di mana pun yang kita sukai. Pahala yang baik adalah bagi mereka yang bekerja keras." Abdur Rahman mengatakan bahwa setelah itu dia terbangun (Ibn Asakir).

Sufyan mengatakan bahwa ketika Daud ibn Abi Hind terserang penyakit, dia pingsan. Setelah beberapa saat, dia pulih dan mengatakan bahwa dua orang telah mucul di depannya. Salah satunya bertanya kepada yang lain: "Apa yang engkau dapatkan darinya?" orang itu menjawab: "Dia telah banyak menghabiskan waktunya untuk memuji Tuhan, mendatangi masjid dan mambaca Al-Quran yang telah dihafalnya." (Abu Na'im).

Semoga bermanfaat, baca juga Kisah dramatis mengenai budak perempuan.

Para Malaikat Menciumi Orang yang Meninggal

Kisah Renungan Islami - Para Malaikat Menciumi Orang yang Meninggal.
Artikel ini dikutip dari Buku "Mati itu spektakuler" Penerbit "Zaman".
Jangan lewatkan "Perubahan malaikat maut ketika mencabut nyawa".

Daud ibn Abi Hind menyatakan bahwa dia pernah jatuh sakit berat. Selama sakit, seseorang berkepala besar dan berbahu rata yang mirip orang Sudan muncul di depannya. Begitu melihat orang itu, dia berkata: "Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali." Dia mengira lelaki itu datang untuk mencabut nyawanya. Tetapi Daud bukanlah orang yang tidak beriman sehingga harus didatangi seorang malaikat berwarna hitam. Tak lama setelah itu, dia mendengar sebuah suara terdengar seperti atap rumah yang runtuh. Tiba-tiba atap di atasnya terbuka dan langit menjadi terlihat. Dua malaikat berpakaian putih turun dari langit. Kedua malaikat itu lalu memarahi orang hitam tersebut dan mengusirnya pergi. Namun lelaki hitam itu menatapnya dari jauh dan kedua malaikat itu terus saja memarahinya. Kemudian salah satu dari malaikat itu duduk di dekat kepala Daud dan yang satunya di dekat kakinya. Malaikat itu menyentuh kedua kakinya dan memberi tahu rekannya bahwa dia sering berjalan kaki untuk shalat. Kemudian yang kedua meminta kepada yang pertama untuk menyentuh mulutnya. Malaikat itu menyentuh mulutnya dan berkata bahwa mulut itu masih hangat dengan ucapan pujian kepada Tuhan. (Ibn Abi Dunya; Kitab Man Asya Ba'd al-Maut).

Abu Qatadah bercerita bahwa kemanakannya, Majan, sakit keras. Dia enggan menjenguknya, karena Majan pernah berbuat salah terhadapnya. Ketika Majan berada di ambang kematian, kasih sayang dan cinta Abu Qatadah menguasainya. Ia menyadari bahwa Majan adalah anak saudara laki-lakinya dan dia sedang berada dalam ambang kematian, karenanya dia harus mengetahui kondisi kesehatannya. Abu Qatadah lalu menjenguk kemanakannya yang sedang sakit itu. Majan mengatakan kepadanya bahwa dua orang laki-laki hitam muncul dengan membawa martil di tangannya. Kemudian dua malaikat turun dari atap rumah itu. Dia mendengar salah seorang malaikat itu berkata kepada yang lain bahwa dia harus pergi ke orang yang sakit untuk memastikan apakah dia telah mengerjakan perbuatan saleh atau tidak. Maka salah satu dari malaikat itu mendekatinya dan menciumi kapala, perut, dan kakinya. Kemudian malaikat itu kembali dan memberi tahu rekannya bahwa dia telah mencium kepalanya tapi kosong dari Al-Quran, dia telah mencium perutnya tapi tidak ada tanda-tanda pernah puasa. Dan dia telah menciumi kakinya tapi tidak ditemukan tanda-tanda pernah melakukan ibadah. Setelah itu, malaikat yang lainnya mendekati Majan dan menciumi kepala, perut, telapak kaki dan telapak tangan. Kemudian Abu Qatadah mendengar malaikat itu berkata bahwa dia heran mengapa seorang pengikut Nabi seperti Majan tidak memiliki sifat-sifat mulia. Lalu malaikat itu membuka mulut Majan dan menekan ujung lidahnya. Abu Qatadah mengatakan bahwa waktu itulah dia mendengar ma-laikat berseru "Allahu Akbar" dan berkata bahwa dia telah menemukan takbir di ujung lidahnya yang pernah diucapkan-nya dengan ikhlas di Antakia, sebuah kota di kerajaan Romawi. Segera kedua malaikat meremas lidahnya, aroma kesturi menyebar ke semua arah, dan barulah nyawa Majan dicabut. Abu Qatadah mengatakan bahwa ketika malaikat pergi setelah mencabut nyawa kemanakannya itu, dia meminta kedua orang hitam yang sedang berdiri di pintu untuk meninggalkannya, karena mereka tidak boleh menyentuh jenazah itu. Di pagi harinya, Abu Qatadah menceritakan kejadian ini kepada orang-orang. Satu hal yang sangat mengharukan mereka. Setelah melaksanakan shalat jenazah, mereka mendoakan arwah Majan.

Baca juga post sebelumnya : Durhaka kepada orang tua

Durhaka Kepada Orang Tua

Kisah Renungan Islami - Berikut ini kisah seorang laki-laki dimasa Rasulullah yang Durhaka Kepada Orang Tuanya dalam kisah ini kepada Durhaka kepada Ibunya. Laki-laki ini tidak bisa mengucapkan 2 kalimat syahadat saat akan meninggal namun.. Baca kisah selengkapnya. Kisah ini dikutip dari Buku "Mati itu spektakuler" Penerbit "Zaman".

Abdullah ibn Abi Aufa mengatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi dan memberi tahu beliau bahwa seorang pemuda yang berada di ambang kematiannya sedang dituntun mengucapkan kalimat tayyibah (tidak ada Tuhan melainkan Allah), tapi selalu gagal. Nabi menanyakan apakah anak muda itu sudah terbiasa mengucapkan kalimat tayyibah selama hidupnya. Orang-orang menjawab bahwa dia terbiasa mengucapkan kalimah tersebut. Nabi merasa aneh jika seseorang yang telah mengucapkan kalimat itu sepanjang hidupnya, gagal mengucapkannya pada detik-detik akhir kehidupannya. Kemudian Nabi mendatangi pemuda itu dan mengajarkannya mengucapkan kalimat tayyibah, tetapi dia memperlihatkan ketidakmampuannya. Nabi bertanya mengapa dia seperti begitu. Anak muda itu memberitahukan bahwa hal itu karena dia tidak patuh kepada ibunya. Nabi bertanya apakah ibunya masih hidup. Dia membenarkan. Nabi kemudian meminta orang-orang memanggil ibunya. Ketika perempuan itu datang, beliau bertanya kepadanya, apakah pemuda itu anaknya. Dia membenarkan. Nabi lalu bertanya apa yang akan dia lakukan jika anaknya itu dibakar di dalam api yang menyala-nyala. Perempuan itu lalu menjawab bahwa dia memaafkan anaknya. Nabi memerintahkan dia bersumpah demi Tuhan dan mengumumkan di depan semua orang bahwa dia sudah memaafkan anaknya itu. Perempuan tua itu lalu melakukannya. Kemudian Nabi memerintahkan anak muda itu mengucapkan kalimat tayyibah. Dengan mudah, pemuda itu mengucapkannya. Nabi merasa sangat senang dan berkata bahwa Tuhan telah menyelamatkan pemuda itu dari hukuman neraka. (H.R. Baihaqi, Thabrani).

Abdur Rahman Maharbi mengatakan bahwa seseorang yang sedang sekarat diperintahkan mengucapkan kalimat tayyibah, tapi dia mengaku tidak dapat mengucapkannya, karena dia sering berteman dengan orang-orang yang pernah menjelek-jelekkan Abu Bakar dan Ustman (Ibn Asakir).
Nabi mengutus Abu Qatadah bersama beberapa orang pada sebuah misi ke Zam, salah satu pegunungan di Madinah. Ada seorang laki-laki yang bernama Amar ibn Sabt secara kebetulan bertemu pasukan muslim ini. Ketika melihat mereka dia mengucapkan kalimat tayyibah. Tapi karena mereka meragukan keimanannya, mereka tidak membalas salamnya. Lalu, Mahlam ibn Jasana melangkah maju dan membunuhnya. Ketika inilah sebuah ayat diwahyukan untuk mencela orang-orang muslim:

Hai orang-orang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah. janganlab kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: "Engkau bukan orang-orang mukmin (Lalu kamu membunuhnya)." (Q.S. 4: 94).

Mahlam mengadu kepada Nabi dan memohon agar dia diampuni. Nabi berkata bahwa Tuhan mungkin tidak mengampuninya. Ketika Mahlam mendengar hal itu, berlinanglah air matanya dan dia pergi meninggalkan pasukan itu. Dia ia meninggal dalam minggu itu juga. Ketika hendak dikuburkan dan diletakkan ke liang lahad, jasadnya terlempar keluar. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Lalu, orang-orang meninggalkannya di tengah bebatuan. Ketika Nabi mendengar hal ini, beliau berkata bahwa bumi sebenarnya dapat menerima orang-orang yang lebih buruk dari Mahlam. Kejadian itu dimaksudkan menarik perhatian kaum muslim agar mengambil hikmah dari peristiwa itu.

Demikian kisah Durhaka Kepada Orang Tua, semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua utamanya kepada Ibunda. Baca juga "Kisah budak perempuan II"

Perubahan Rupa Malaikat Maut Ketika Mencabut Nyawa

Kali ini kisah renungan islami memposting artikel yaitu Perubahan Rupa Malaikat Maut Ketika Mencabut Nyawa. Seperti apa Perubahan Rupa Malaikat Maut Ketika Mencabut Nyawa? Baca kisahnya dibawah ini. Baca juga postingan sebelumnya "Kisah Budak Perempuan II".
(1) Abu Sha’thar Jabir ibn Zaid mengatakan bahwa para malaikat pada mulanya mencabut nyawa orang tanpa rasa sakit. Lalu orang-orang mulai memprotes kepada Tuhan yang telah menciptakan penyakit-penyakit. Tapi mereka malah menganggap kematian berasal dari penyakit dan melupakan malaikat maut (Marazi, Ibn Abi Dunya, Abu asy-Syaikh). Singkat kata, kecuali beberapa orang yang terpilih, banyak orang mengaitkan kematian dengan penyakit.

(2) A’masy mengatakan bahwa awalnya malaikat maut muncul di hadapan orang-orang dalam bentuk manusia dan meminta mereka menyelesaikan keinginannya yang terakhir, sehingga dia dapat mencabut nyawa mereka. Tapi mereka kemudian mengeluh dengan cara itu. Lalu Tuhan menciptakan penyakit-penyakit dan menaruh kematian di belakangnya.

(3) Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi bahwa sebelum malaikat maut datang kepada manusia dalam bentuknya sekarang, dia pernah mendatangi Nabi Musa. Lalu Musa menempelengnya dan membuat buta salah satu matanya. Malaikat itu kemudian mengadu kepada Tuhan bahwa hamba-Nya Musa telah membuatnya buta. Kalau saja Tuhan tidak memuliakan Musa, tentu dia akan membalasnya. Tuhan lalu memerintahkannya untuk mendatangi Musa dan memberitahunya agar meletakkan tangannya pada seekor sapi dan Tuhan akan memperpanjang umurnya sebanyak bulu yang menempel di tangannya. Malaikat maut membawa pesan Tuhan kepada Musa yang bertanya apa yang akan terjadi setelah itu. Malaikat maut menjawab bahwa kematian akan datang kepadanya setelah habisnya masa perpanjangan. Setelah itu Musa berkata, jika dia harus: meninggal, dia lebih suka meninggal saat itu juga. Kemudian dia memberikan sebuah apel kepada Musa. Ketika dia mulai menciuminya, malaikat itu mencabut rohnya. Allah lalu memulihkan mata malaikat maut itu. Sejak saat itu, dia berhenti muncul dengan rupa manusia (H.R. Ahmad, Bazar, dan Hakim).

Demikian artikel tentang Perubahan Rupa Malaikat Maut Ketika Mencabut Nyawa, baca juga Gambaran malaikat Izrail & Malaikat lainnya.

Kisah Budak Perempuan (II)

Kisah renungan islami kali ini menghadirkan Kisah dramatis seorang Budak Perempuan yang dibeli oleh seorang Alim pada masa itu, ternyata budak perempuan itu adalah.. Baca kisah lengkapnya dibawah. Sebelumnya telah saya posting Kisah Budak Perempuan (I), jangan lewatkan ya.

Muhammad ibn Hussain Baghdadi berkata: "Suatu hari aku berangkat menunaikan haji. Kebetulan aku melewati pasar Makkah dan melihat seorang laki-laki tua yang menggandeng seorang budak perempuan yang tampak pucat tetapi wajahnya berseri-seri. Laki-laki tua itu berteriak, "Siapa yang mau membeli budak perempuan ini? Adakah yang mau membayar dua puluh koin emas dengan syarat aku tidak bertanggung jawab terhadap segala kekurangannya?" Aku dekati laki-laki tua itu dan bertanya kepadanya: "Aku sudah tahu harganya, tolong beri tahukan kekurangan-kekurangannya." Kemudian lelaki tua itu mulai merincinya: "Dia seorang perempuan gila, dan selalu tampak cemas. Dia beribadah sepanjang malam dan berpuasa sepanjang siang; tidak makan, tidak minum, dan suka sekali menyendiri."

Sifat-sifat anak itu menarik perhatianku, maka aku membelinya. Aku melihatnya duduk dengan wajah tertunduk, tapi kemudian dia mengangkat kepalanya dan berkata: "Tuan muda, dari mana negeri asal Tuan? semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepadamu." Aku menjawab: "Dari Irak." Dia bertanya: "Irak bagian mana, Basrah atau Kufah? "Aku menjawab: "Bukan dari keduanya." Dia bertanya lagi: "Apakah Tuan dari Baghdad? Aku berkata: "Ya." Dia berseru kegirangan dan berkata: "Itu adalah kota para orang saleh, itu adalah kota orang-orang beriman." Aku bertanya bagaimana budak perempuan ini memiliki pengetahuan tentang orang-orang saleh. Karena rasa senangku, aku bertanya: "Orang-orang saleh mana yang kamu kenal?" Dia mulai menghitungnya: "Malik ibn Dinar, Bashar Hafi Saleh, Muhammad ibn Husein Baghdadi, Rabi'ah, Advia, Sha'wana, dan Maimuna."

Aku bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau tahu tentang orang-orang saleh itu?" Orang-orang ini adalah para dokter hati. Merekalah orang-orang yang dekat dengan Allah dan karena itu mereka tidak suka selain mencari keridaan-Nya. Tujuan utama mereka adalah Allah. Betapa mulianya tujuan mereka, mereka hanya persembahkan diri kepada Allah. Mereka tidak terperangkap dunia, maupun kesenangan dan masalahnya." Aku lalu berkata kepadanya: "Wahai anak perempuan, Aku adalah Muhammad ibn Husein." Dia berkata: "Aku selalu memohon kepada Allah agar Dia memberikanku kesempatan melihatmu. Bagaimana dengan suaramu yang memesonakan hati-hati para muridmu?" Aku berkata, "Aku masih memilikinya (suara yang memesona)." Dia berkata, "Demi Tuhan, bacakan untukku bagian dari Al-Quran." Lalu aku bacakan: "BismiiIahi rrahmanirrahim"." Dia menjerit keras dan tidak sadarkan diri. Aku percikkan air padanya dan dia tersadar, lalu berkata: "Jika nama-Nya saja berpengaruh begitu mendalam, apa yang akan terjadi denganku ketika aku melihat-Nya di surga?" Kemudian di berkata lagi: "Baiklah, bacakan lagi Al-Quran. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu." Aku membacakan sebuah ayat Al-Quran:

Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah yang mereka sangka itu. (Q.S. 45: 21).

Mendengar ayat ini, dia berkata "Alhamdulillah, aku tidak menyembah siapa pun selain Dia tidak pula aku memuja berhala." Kemudian dia memintaku membacakan beberapa ayat lagi:

Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim neraka
yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, mereka akan diberi minum air seperti besi mendidih yang menghanguskan mereka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Q.S. 18: 29).

Kemudian dia menambahkan "mengapa engkau membuat hatimu menjadi begitu muram. Buatlah ia hidup di antara pengharapan dan rasa takut." Dia berdoa "Semoga Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadamu." Kemudian dia memintaku membaca beberapa ayat lagi:

Banyak wajah pada hari (kebangkitan) itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria (dengan berita gembira). (Q.S. 80: 38-39).

Aku juga membacakan Ayat ini:
Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, melihat Tuhan mereka. (Q.S. 75: 22-23).

Dia kemudian berkata: "Aduhai, betapa cemasnya aku akan pertemuan dengan-Nya ketika Dia menampakkan diri-Nya kepada para wali-Nya." Lalu dia berdoa: "Semoga Allah memberkahi engkau dengan rahmat-Nya. Bacakanlah lagi beberapa ayat." Aku bacakan beberapa ayat Al-Quran:

Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda
Dengan membawa gelas, ceret, dan piala berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir
Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih
Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan
Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli Laksana mutiara yang tersimpan baik
Sebagai balasan bagi apa yang mereka kerjakan
Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa
Akan tetapi mereka mendengar ucapan salam
Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu
Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri
Dan pohon (pisang) yang bersusun-susun (buahnya)
Dan naungan yang terbentang luas
Dan air yang tercurah
Dan buah-buahan yang banyak
Yang tidak terhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya Dan kasur-kasur yang empuk
Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan
Penuh cinta lagi sebaya umurnya
(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan. (Q.S. 56: 17-38).

Kemudian budak perempuan itu memberitahuku: "Milikmu adalah pengikat (perkawinan) dengannya. Engkau harus mengeluarkan sesuatu untuk hadiah perkawinan." Aku bertanya padanya: "Apakah (hadiah) perkawinan bagi mereka, karena aku adalah laki-laki yang miskin?" Dia berkata: "Hadiah perkawinan mereka adalah tahajud, berpuasa di siang hari, dan mencintai orang-orang miskin dan anak-anak yatim." Sesudah itu, budak perempuan itu melantunkan bait-bait puisi berikut:

Wahai laki-laki yang menginginkan bidadari-bidadari di surga Yang terobsesi dengan mereka
Bersemangatlah, berjuang keras, dan jangan malas
Bertahajudlah di tengah malam
Karena ia adalah mas kawin bagi perawan-perawan surga Yang menyilaukan mata
Yang memiliki dada-dada montok
Yang berjalan beriringan bersama gadis sebayanya Yang mengenakan kalung berkilauan
Yang tak ada tara bandingnya di dunia

Sesudah melantunkan bait-bait itu, dia tidak sadarkan diri. Lagi-lagi aku memercikkan air di wajahnya. Setelah tersadar, ia berdoa:

Ya Tuhan, lindungilah aku dari azab-Mu. Dengan kasihmu, Engkau ampuni dosa-dosaku, karena Engkau Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Orang-orang berpendapat baik tentang diriku, namun bila tidak Engkau ampuni kesalahan-kesalahanku, maka hancurlah aku. Tidak ada jalan bagiku selain mengharapkan pengampunan-Mu dan tidak kuharap apa pun selain rahmat-Mu.

Setelah mengucapkan doa puitis ini, budak tersebut tidak sadarkan diri lagi. Ketika aku menghampirinya, dia telah meninggal dunia. Aku betul-betul kaget dan segera pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan untuk menguburkannya. Sewaktu pulang dari pasar, aku menemukan mayatnya sudah terkafani dan sudah diberi parfum, serta siap dibawa ke kubur. Kafannya terdiri dari dua lembar kain berwarna hijau, yang merupakan baju surga. Di atas kain kafan, tertulis dua baris kalimat dengan menggunakan cahaya langit. Baris pertama adalah kalimat thayyibah: "La ilaha illallah, Muhammad rasulullah." Baris yang lain berisi sebuah ayat Al-Quran, "Maka ingatlah, para wali Allah, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih."

Dengan bantuan beberapa kawan, aku membawa jenazahnya. Setelah mengucapkan doa, kami menguburkannya. Aku mengalami penderitaan yang amat sangat akibat kematiannya. Saat pulang, aku melakukan shalat dua rakaat dengan sangat khusyuk, lalu tertidur. Dalam ridurku, aku bermimpi melihat budak perempuan itu berjalan di surga. Dia berada di sebuah taman Zafaron yang kecil tetapi beraroma harum. Dia menggunakan setelan sutera dan brokat, juga sebuah mahkota di atas kepalanya bertaburan permata. Dia mengenakan sepatu yang terbuat dari batu mulia. Aroma minyak kesturi dan parfum memancar dari badannya. wajahnya lebih cerah daripada Matahari dan Bulan. Aku berkata: "Wahai anak perempuan, berhentilah sebentar dan beri tahu aku amalan apa sehingga kamu dianugerahi tempat terhormat ini." Dia berkata: "Semua ini karena rasa cintaku yang aku tunjukkan pada orang-orang papa dan anak-anak yatim; doaku supaya diampuni; dan menyingkirkan benda-benda berbahaya dari jalan umum." Dia kemudian mengucapkan bait-bait puisi berikut:

Kemujuran adalah orang yang di malam hari matanya selalu terjaga
Dan melewatkannya dalam kerinduan akan kebesaran cinta Tuhannya
Menyesali kekurangannya di siang hari
Menyendiri di malam hari
Menghitung bintang dan takut akan hukuman Allah

Allah menyaksikan semua itu

Demikian kisah renungan islami Mengenai budak perempuan ini semoga bermanfaat. Baca juga Kisah kematian orang-orang takwa