Kisah Rasyid ibn Sulaiman

Setelah kisah yang saya posting kemarin "Kisah seorang perempuan cantik yang sabar" dan kini kisah renungan islami kembali menghadirkan kisah Rasyid ibn Sulaiman, berikut kisahnya.

Dahhak Maz'ahim berkata: "Pada Jumat malam, aku pergi untuk menemui pengurus masjid Kufah. Malam itu diterangi cahaya Bulan. Di halaman masjid, aku melihat seseorang sedang bersujud dan menangis tersedu-sedu. Aku berpikir dia tentu seorang wali. Aku mendekatinya untuk dapat mendengarkan ucapannya. Dia mengatakan:

Wahai Pemilik segala kehormatan, hanya kepada-Mu saja aku beriman. Kekayaan adalah milik orang yang mencari keridaan-Mu, milik orang yang menghabiskan malamnya dalam keterpesonaan dan ketakutan terhadap-Mu, dan melepaskan perihnya hanya di hadapan Pemilik Segala Keagungan. Dia tidak memiliki tujuan dan kepedulian; baginya, hidup hanya diabadikan dalam cinta Allah yang tiada akhir. Saat tirai malam menyelimutinya, dia sibuk memohon kepada Allah. Lalu, Dia mengabulkan permohonannya dengan mengatakan: "Di sinilah aku bersamamu."

Orang itu mengulangi kalimat tersebut dengan berlinang air mata. Karena rasa simpati, akhirnya aku juga ikut menangis. Kemudian dia berbicara, seakan melihat cahaya langit dan mendengar seseorang yang membacakan syair:

Hamba-Ku, di sinilah Aku.
Engkau ada dalam lindungan-Ku
Malaikat-malaikat-Ku menyukaimu
Dan seluruh dosa-dosa-Mu telah Aku ampuni

Kemudian aku menyapanya: "Assalamu'alikum." Dia membalas: "Wa'alaikum salam." Aku berkata: "Semoga Tuhan memberkatimu dan mengasihimu, tapi beri tahu aku, siapa Anda!" Dia berkata: "Aku Rasyid ibn Sulaiman." Aku sudah pernah mendengar namanya dan mengenal sifat-sifatnya. Sejak lama, ingin sekali aku bertemu dengannya. Pada hari itu, Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu dangannya. Ketika aku meminta tinggal bersamanya, dia mengatakan: "Sulit, saat seseorang sedang berada dalam kenikmatan dekat dengan Tuhannya, dia tidak pernah berhubungan dengan orang lain. Demi Tuhan, jika para wali Allah melewati kita, mereka tentu akan mengatakan: ‘orang-orang ini tidak percaya kepada hari akhir.’" Setelah menyatakan ini Rasyid menghilang. Tuhan Mahatahu apakah dia terbang ke langit atau menghilang ke dalam bumi. Perpisahan dengannya memperparah dukaku, maka aku berdoa kepada Tuhan agar Dia memberi kesempatan untuk bertemu lagi dengannya sebelum aku meninggal.

Suatu hari, saat berhaji, aku melihatnya di balik dinding Ka’bah yang sedang dikelilingi sekelompok orang yang membacakan surah al-An'am. Melihat aku, dia tersenyum dan berkata: "Inilah buah kebaikan ulama dan berkah para wali Allah." Dia lalu berdiri, menjabat tanganku, dan memelukku sambil mengatakan: "Apakah Anda memohon kepada Allah agar bertemu aku lagi?" Aku benarkan perkataannya. Kemudian aku memintanya memberitahukan apa yang telah dilihatnya dan didengarnya pada malam itu. Dia menjerit begitu kerasnya seolah hatinya hancur. Dia terjatuh tak sadarkan diri. Sedang orang-orang yang tadi mengelilinginya dan membacakannya Al-Quran telah pergi. Ketika sadar kembali, dia berkata: "Saudaraku, engkau tidak tahu perihnya duka lara dan rasa takut di dalam hati para wali Allah ketika dia membuka rahasia kekasih-Nya." Aku bertanya: "Siapakah tadi orang-orang yang membaca Al-Quran di sekelilingmu?" Dia berkata: "Mereka adalah jin. Aku menghormati mereka karena hubungan lamaku dengan mereka. Mereka melaksanakan haji dalam rombonganku setiap tahun dan membacakan aku Al-Quran." Kemudian dia mengucapkan selamat berpisah kepadaku dengan doanya:

Semoga Tuhan mengatur pertemuan kita di surga, di mana tiada perpisahan, kerja-keras, kesedihan, dan derita.

Setelah mengucapkan doanya, dia menghilang. Dan sejak itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.

Baca juga kisah Putra Harun Ar-Rasyid, kisah seorang anak raja yang rela meninggalkan kemewahan istananya.

Kisah Seorang Perempuan Cantik yang Sabar

Kisah renungan islami tentang "Kisah seorang perempuan cantik yang Sabar". Kisah berikut ini mengisahkan kesabaran dan ketabahan seorang perempuan meskipun cobaan yang diberikan kepadanya sungguh luar biasa, berikut kisahnya.

Abu Hassan Siraj bercerita: Ketika aku pergi haji, aku mengelilingi Ka’bah dan tanpa sengaja melihat seorang perempuan cantik. Aku berkata: "Demi Tuhan, belum pernah aku melihat orang secantik ini. Pastilah kecantikan itu karena dia belum pernah mengalami kesedihan." Rupanya dia mendengarkan gumamanku, lalu berkata: "Apa yang telah Anda ucapkan? Demi Tuhan, aku telah terbenam dalam dukacita dan kesengsaraan. Tak seorang pun yang mau berbagi rasa denganku." Aku bertanya: "Apa yang terjadi denganmu?" Dia berkata: "Suamiku adalah penyembelih domba. Saat itu kedua anakku yang masih kecil sedang bermain-main, sedang seorang bayi ada di pangkuanku, sementara aku juga harus memasak. Kemudian salah satu dari anak itu berkata: mari aku tunjukan cara bapak kita menyembilah domba. Anak yang satunya setuju. Dan seketika itu juga dia membunuh saudaranya sepeti membunuh seekor domba dengan cara merebahkannya ke tanah. Dia lalu lari ketakutan, dan mendaki sebuah bukit di mana seekor serigala melahapnya. Bapaknya pergi mencari-cari dia dan dalam perja-lanan pencarian anaknya, dia meninggal dunia karena kehausan yang sangat. Aku mendudukkan bayi itu dengan penuh harapan mendapat kabar di mana suamiku. Sementara bayiku merangkak ke perapian yang di atasnya ada periuk mendidih. Segera saja dia menggoyang-goyangkanya, dan jatuhlah periuk itu ke atasnya, akibatnya tubuhnya terbakar sampai kulitnya terkelupas. Aku juga masih memiliki seorang anak gadis yang tinggal di rumah suamiku. Ketika malapetaka ini terdengar olehnya, dia terjatuh dan tewas. Begitulah, akhirnya kini tinggal aku sendirian."

Aku bertanya: "Bagaimana engkau dapat tahan dengan semua kemalangan ini?" Dia berkata: "Orang yang mau merenung tentang kesabaran dan ketidaksabaran akan memahami banyak perbedaan di antara keduanya. Balasan kesabaran adalah kemuliaan, adapun ketidaksabaran tidak ada pahalanya." Kemudian dia membacakan syair berikut dan pergi.
Pertahananku adalah hal yang terbaik untuk diandalkan: kesabaran.
Sekiranya diperoleh kebaikan dari ketidaksabaran, sudah pasti telah kujalani
Aku bertahan dari segala kemalangan yang dapat meruntuhkan gunug-gunung

Air mataku dapat terkendali. Dia bisa tertahan keluar Tapi kini, ia terjatuh ke relung hatiku

Demikian kisah renungan ini, semoga Allah memberikan kepada kita selalu kesabaran dalam setiap keadaan yang kita alami di dunia ini. Baca juga Kisah Putra Harun Ar-Rasyid.

Kisah Seorang Pemuda yang Pergi Berhaji

Pada kisah sebelumnya "Kisah putra Harus Ar-Rasyid" sekarang kisah renungan islami kembali menyajikan kisah renungan yang berjudul Kisah Seorang Pemuda yang Pergi Berhaji. Kejadian ganjil apakah yang dialami pemuda ini, baca kisah selengkapnya.

Ibrahim Khawas berkata: Aku berhaji bersama rombongan banyak teman yang sudah pernah berhaji. Dalam perjalanan, tiba-tiba aku dikuasai dorongan untuk menyendiri dan timbul keinginan kuat dalam diriku untuk pergi meninggalkan rombongan itu. Maka, aku tinggalkan rombongan itu dan mengambil jalur lain seorang diri. Aku teruskan perjalanan sendirian ini selama tiga hari tiga malam tanpa henti dan tak pernah terpikir olehku makan maupun minum. Setelah berjalan tiga hari tiga malam, aku sampai di hutan yang rimbun dan hijau, di mana tumbuh buah-buahan dan bunga-bunga dari berbagai jenis, semua baunya harum dan manis. Di tengah-tengah tempat ini ada sebuah sumber air yang bergolak. Aku menganggap inilah surga yang benar-benar mengagumkan. Aku masih dalam keterpanaan ketika melihat serombongan orang yang sedang berjalan menuju ke arahku. Wajah-wajah rombongan ini seperti manusia. Mereka mengenakan kain indah yang bergambar. Mereka mengelilingiku dan memberi salam. Aku jawab salam mereka dan berkata: "Di mana kalian dan di mana aku?" Tiba-tiba aku merasa bahwa mereka adalah jin.

Salah seorang dari mereka berkata: "Memang ada perseilisihan pendapat di antara kalian (manusia) tentang kami. Pada malam pengambilan sumpah setia kepada Allah, kami mendengar kitab suci (Al-Quran) yang telah membebaskan kami dari semua kecemasan dunia. Lalu, Tuhan menganugerahkan tempat ini untuk kami." Aku bertanya: "Seberapa jauh tempat di mana aku meninggalkan teman-temanku?" Mendengar pertanyaanku, salah seorang dari mereka tersenyum dan berkata: "Wahai Abdul Ishak, mistri adalah cara-cara Allah. Seorang pemuda dari bangsamu pernah datang ke sini dan meninggal di tempat ini. "Lihatlah, inilah kuburannya," mereka menunjuk sebuah kuburan. Aku melihat kuburan yang berada di tepi kolam itu, dikelilingi taman kecil di mana tumbuh aneka bunga yang belum pernah aku lihat.

Kemudian jin itu berkata: "Jarak ke tempat itu dari sini memakan waktu berbulan-bulan lamanya." Ibrahim berkata: "Baik, beri tahu aku ciri-ciri anak muda itu." Salah seorang dari mereka lalu menceritakan kepadaku tentang anak muda itu: Kami sedang duduk-duduk di sisi sumber air itu sementara membincangkan tentang kuatnya cinta Allah. Tidak lama kemudian datanglah anak muda itu dengan memberi salam kepada kami. Kami jawab salamnya, dan bertanya: "Wahai anak muda, dari mana asalmu?" Dia menjawab: "Nishapur." Kami bertanya lagi, "Sudah berapa lama kamu meninggalkan kota itu?" Dia menjawab: "Tujuh hari." "Apa tujuanmu meninggalkan kota itu?" tanya kami lagi. "Aku telah mendengar firman-firman suci, di antaranya adalah:
Dan kembalilah kepada Tuhanmu (dengan penuh penyesalan) dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab, dan kemudian kamu tidak dapat ditolong. (Q.S. 39: 54).

Kami bertanya lebih lanjut: "Apa yang dimaksud dengan ‘rasa sesal’ dan azab?'" Dia lalu menjelaskannya. Ketika sampai pada pembahasan "azab," dia menjerit dan meninggal dunia. Lalu kami menguburkannya di sini.

Ibrahim berkata: "Aku sangat terkesan mendengar cerita itu. Karenanya, aku dekati kubur itu dan kulihat ada sebuah karangan bunga bakung yang sangat besar. Di bagian kepala kuburnya, tertulis kata-kata berbahasa Arab: inilah kubur kekasih Allah. Ia meninggal karena hatinya yang teguh."

Di atas daun bakung, tertulis penjelasan kata "rasa sesal." Aku membacanya dan para jin itu memintaku memberitahukan maksud kata itu. Mereka menjadi sangat senang dan mulai bersuka cita. Mereka berkata: "Persoalan kami yang menjadi perselisihan di antara kami telah terpecahkan." Ibrahim berkata: "Aku lalu merasa ngantuk. Dan ketika aku terjaga, aku telah berada di dekat masjid Aisyah yang terletak di daerah Tan'im (dekat Makkah) dan menemukan sebuah karangan bunga tergeletak di bajuku. Bunga itu tetap aku simpan selama satu tahun. Anehnya, bunga-bunga itu tetap segar. Namun demikian, setelah beberapa hari (dari satu tahun itu), karangan bunga itu tiba-tiba menghilang."

Kisah Putra Harun Ar-Rasyid

Berikut ini kisah renungan mengenai seorang Putra Raja yang rela meninggalkan kemewahan untuk mendapatkan ridho dari Allah. Simak kisah lengkapnya. 

Raja Harun ar-Rasyid mempunyai seorang anak laki-laki, berusia hampir delapan belas tahun. Dia suka duduk bersama orang-orang saleh. Dia sering mengunjungi kuburan dan menyapa orang mati sambil berkata: "Engkau telah menjalani kehidupan yang fana. Engkau telah meninggalkan dunia yang tidak memberikan kedamaian. Karena engkau sekarang sudah mencapai kubur, aku hanya ingin mengetahui apa yang terjadi padamu dan pertannyaan-pertanyaan apa yang harus kalian jawab." Anak khalifah terkenal itu sering terdengar membawakan bait ini:

Aku merasa ngeri melihat prosesi penguburan setiap hari
Tangisan untuk si mayat sungguh sangat menyesakkanku


Suatu hari, dia mendatangi ayahnya yang sedang duduk bersama para menteri dan pesuruhnya. Tubuh anak raja ini terbungkus kain kasar dan mengenakan serban di kepalanya.

"Anak gila ini telah merendahkan Raja," bisik pesuruhnya. Mereka lalu meminta Khalifah menegur anaknya agar mengubah penampilannya. Khalifah berkata kepada anaknya, "Engkau benar-benar telah merendahkanku, anakku." Anak itu tidak menjawab tetapi menunjuk kepada seekor burung liar yang hinggap di dekat situ, dan berkata: "Demi Allah, aku minta kamu datang dan hinggap di atas lenganku." Seketika itu juga, burung itu terbang dan hinggap di atas lengannya. Lalu dia meminta burung itu pergi, dan burung itu pun terbang kembali ke tempatnya.

Kemudian ia berkata kepada ayahnya: "Cara Ayahanda mencintai dunia sungguh membuat aku malu dan aku sudah putuskan untuk berpisah dengan Ayah." Sesudah mengucapkan ini, dia meninggalkan tempat itu. Dia membawa sebuah Al-Quran. Tetapi beberapa saat sebelum dia pergi, ibunya memberi sebuah cincin yang sangat berharga yang dapat dijual saat terdesak. Dilangkahkannya kakinya menuju Basrah dan mulailah ia bekerja sebagai buruh. Dia hanya bekerja seminggu sekali dan harus mencukupkan diri dengan pendapatan satu hari untuk delapan hari. Dia memperoleh sekitar Rp 206 jika dirupiahkan lebih sedikit untuk pekerjaannya dan tidak meminta lebih dari itu. Dia membelanjakannya sangat sedikit, demi mempertahankan hidup.

Abu Amir Basri bercerita bahwa salah satu dinding rumahnya telah runtuh dan dia sedang mencari seorang tukang batu untuk membangunnya lagi. Dia melihat seorang pemuda tampan sedang duduk dan membaca Al-Quran. "Maukah kau bekerja untukku?" dia bertanya kepada anak itu. "Ya, aku mau. Manusia dilahirkan untuk mendapatkan nafkah dari keringatnya sendiri. Apa yang dapat aku kerjakan untukmu?" Abu Amir berkata: "Aku menginginkanmu bekerja mengaduk semen." "Baik, aku minta Rp 206 untuk upah harianku, dan tidak bekerja selama waktu shalat." Abu Amir menerima kedua syarat ini.

Sadar bahwa beban pekerjaan yang diselesaikan anak muda itu tidak mungkin dikerjakan oleh sepuluh orang, Abu Amir memberikan Rp 412 lebih banyak dari yang ditetapkan. Tapi, anak itu malah menolak dan pergi sesudah mengambil jumlah yang telah disepakati.
Hari berikutnya, Abu Amir mencari lagi anak itu, tetapi ia tidak menemukannya. Dia bertanya kepada setiap orang, apakah mereka dapat menceritakan siapa gerangan anak muda itu. Seseorang memberitahunya: "Pemuda itu hanya bekerja pada hari Sabtu."

Setelah menilai pekerjaan anak muda itu, Abu Amir begitu terpikat sehingga rela menghentikan pekerjaannya selama seminggu. Pada hari Sabtu, dia mulai mencari lagi anak itu. Dia melihatnya sedang membaca Al-Quran, seperti kala itu. Dia menyalaminya dan bertanya apakah dia mau bekerja lagi untuknya atas dasar persyaratan yang disepakati.

Karena heran dengan banyaknya pekerjaan yang diselesaikan anak itu, Abu Amir menjadi penasaran dengan cara kerjanya. Ia pun mengintip anak itu ketika sedang bekerja. Dia melihat dengan penuh keheranan bagaimana, ketika anak itu merekatkan adukan di dinding, batu-batu yang ada di tanah menyusun sendiri secara otomatis. Abu Amir meyakini bahwa anak muda itu pastilah orang saleh, karena hanya orang sucilah yang memiliki kekuatan gaib dalam pekerjaannya. Setelah anak muda itu selesai, Abu Amir memberinya tiga rupee, tapi anak muda itu menolak menerimanya sembari menegaskan kalau dia tidak membutuhkan uang tambahan. Dia mengambil uang satu rupee dan pergi.

Abu Amir menunggunya hingga hari Sabtu lagi. Tetapi kali ini, setelah berusaha mencari, jejak anak ini tidak tampak. Dia menanyakan pada beberapa orang, dan seorang laki-laki memberitahunya bahwa pemuda itu sedang terbaring sakit di dalam hutan. Abu Amir mengajak lelaki itu mencari si pemuda.

Sampailah mereka di hutan. Abu Amir melihat anak muda itu terbaring di atas tanah setengah sadar, berbantalkan sepotong batu bata. Dia menyalaminya, tetapi tidak mendapat jawaban. Sekali lagi dia menyapanya, dan pemuda itu membuka matanya seolah sudah tahu bakal kedatangan orang. Abu Amir mengangkat kepalanya dan meletakkannya di pangkuannya. Anak muda itu tiba-tiba marah atas perbuatan itu. "Jangan tertipu kenyamanan duniawi! Kehidupan akan segera berakhir dan kita akan berpisah dengan kenyamanan itu. Ketika seseorang meninggal dunia, peringatkan dirimu bahwa suatu hari kamu juga akan menemui akhirat. Nanti, jika rohku telah meninggalkan kerangka yang fana ini, tolong mandikan aku dengan baik dan kuburkan aku setelah membungkus badan ini dengan pakaian yang sedang aku kenakan."

Abu Amir bertanya, "Mengapa tidak aku bawakan sebuah kain kafan yang pas untukmu?" Dia berkata, "orang-orang yang hidup lebih berhak memanfaatkan pakaian yang baru." (Inilah juga yang diutarakan Abu Bakar Shiddiq saat dia mau meninggal dunia. Dia katakan bahwa dia harus dikuburkan sesudah dibungkus dengan pakaian yang sedang dia kenakan.) Anak muda itu berkata: "Lama atau baru, kain kafan akan menjadi usang. Yang seseorang bawa ke akhirat adalah amal perbuatannya. Berikan serban dan tempat airku kepada penggali kubur sebagai upahnya dan bawalah cincin dan Al-Quran ini kepada Raja Harun ar-Rasyid. Jagalah baik-baik dan serahkan sendiri barang-barang ini kepada Raja. Beri tahu Raja bahwa barang-barang ini ditinggalkan seorang anak pengembara. Beri tahu dia supaya berhati-hati terhadap kematian dan kelalaian."
Setelah mengatakan hal itu, roh pemuda itu terbang menuju surga.

Abu Amir baru menyadari bahwa pemuda itu seorang pangeran. Dia melaksanakan permintaan terakhir pemuda itu, ia lalu menguburkannya. Dia memberikan serban dan tempat air kepada penggali kubur dan membawa Al-Quran dan cincinnya ke Baghdad. Ketika sampai di dekat istana, dia melihat suatu rombongan keluar dari istana. Abu Amir berhasil menemukan podium yang tinggi di mana dia dapat menyaksikan apa yang sedang terjadi. Dia melihat prosesi angkatan bersenjata yang terdiri dari seribu tentara berkuda. Prosesi ini keluar satu per satu. Dan, pada barisan ke sepuluh, dia melihat Raja keluar. Maka berteriaklah Abu Amir: "Demi Tuhan, berhenti dan dengarlah apa yang akan aku katakan atas nama Nabi yang suci!"

Mendengar ucapan itu, Raja memperhatikannya. Cepat-cepat Abu Amir menuju ke arah Raja dan berkata: "Barang-barang ini diberikan kepadaku oleh seorang anak pengembara yang memintaku untuk menyerahkannya kepada Anda." Raja melihat barang-barang yang rasanya pernah akrab dengannya itu. Setelah beberapa saat, ia menundukkan kepala dengan penuh linangan air mata. Raja meminta seorang pesuruh untuk menjaganya sampai dia kembali.

Ketika Raja kembali ke istana, ia memerintahkan agar tirai-tirai di kamarnya diturunkan. ia berkata: "Panggil orang itu agar aku dapat meringankan beban dukaku." Pesuruh itu pergi ke Abu Amir dan memberitahukan bahwa Raja ingin ditemani olehnya. Namun demikian, Abu Amir memperingatkan dirinya sendiri bahwa Raja sedang sedih dan dia harus menjaga kata-katanya kalau berbicara dengannya.

Sampai di kamar Raja, Abu Amir melihat Raja sedang duduk seorang diri. Raja meminta agar dia mendekat dan duduk di sebelahnya. Raja bertanya apa yang anaknya sering kerjakan.

Abu Amir memberitahukan kalau dia sering mencari nafkah dan bekerja sebagai tukang batu. "Apakah dia bekerja untukmu?" tanya Raja. "Ya," jawab Abu Amin Raja berkata: "Tidak tahukah kamu kalau dia berhubungan dekat dengan Nabi?" (Raja adalah keturunan Abbas ibn Abd al-Muthalib, paman Nabi). Abu Amir menyesal tidak tahu apa pun tentang anak itu saat dia bertemu dengannya dulu. Kemudian Raja bertanya apakah dia yang memandikan anaknya. Abu Amir mengiyakan. Raja menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat-erat ke dadanya. Ketika itulah ia menyenandungkan bait ini:

Hatiku mulai luluh, mengenang sang pengembara kesepian yang jauh dariku
Meskipun begitu, dukanya sungguh memenuhi hatiku
Kematian, tak pelak, memporandakan kenyamanan kita
Wahai pengembara, wajahmu adalah secercah cahaya rembulan Yang menempel pada lehermu nan jenjang dan berkilau
Kubur telah menelan sepotong bulan, bulan atau cahaya bulan

Selanjutnya, Raja Harun ar-Rasyid menziarahi kuburan anaknya, ditemani Abu Amir. Ketika mereka sampai di tempat itu, Raja melantunkan syair berikut ini:

Betapa besar keinginanku
Berjumpa dengan sang pengembara yang tak akan pernah kembali
Kematian terlalu dini menjemputnya
Engkau adalah cahaya kedua mata ini
Hatiku tergetar oleh cintamu
Dan ayahmu ini, aku akan segara merasakan Cawan Kematian dalam usia uzurnya
Sedang engkau dalam usia mudamu mendahului merasakannya
Cepat atau lambat siapa pun harus menerima cawan itu
Di mana pun ia berada, di hutan atau di kota
Kita hanya dapat memuji Tuhan
Dan dialah yang menentukan perilaku kita

Melanjutkan ceritanya, Abu Amir berkata bahwa setelah memanjatkan doa-doa di malam hari, dia tidur dan bermimpi melihat sebuah sumber cahaya yang berubah menjadi suatu awan keperakan. Dilihatnya wajah pemuda pengembara itu keluar dari awan. Pemuda itu menyapa dia dan berkata: "Aku berdoa semoga Allah membalas kebaikan yang telah engkau lakukan untukku." Abu Amir bertanya bagaimana keadaannya setelah mengucapkan selamat tinggal kepada dunia yang fana ini. Pemuda itu berkata bahwa dia dikelompokkan ke dalam orang-orang yang diberkati, dan dia menikmati rahmat itu yang tak satu pun manusia dapat mengerti atau memahaminya.

Abdullah ibn Mas'ud berkata: Orang yang dapat menahan tidur dan melakukan shalat sepanjang malam telah dijanjikan hal-hal semacam itu (seperti pemuda tersebut) oleh Allah. Menurut Al-Quran, tak seorang pun pernah memimpikan kesenangan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang diberkati di akhirat kelak.


Menurut kisah yang lain, ketika seseorang bertanya kepada Raja Harun ar-Rasyid tentang anaknya, dia berkata: "Anak itu lahir jauh sebelum aku menjadi raja. Anak itu benar-benar mengetahui Al-Quran dan cabang ilmu pengetahuan lainnya. Ibunya telah memberinya sebuah cincin yang berharga yang tak dapat dia manfaatkan dan dikembalikannya sebelum dia meninggal. Dia sangat patuh kepada ibunya."


Demikian kisah renungan mengenai putra Harun Ar-Rasyid, semoga dapat kita renungkan betapa hinanya dunia ini. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari cinta dunia yang berlebihan. Share jika anda rasa bermanfaat. Baca juga kisah seorang pemuda yang mendapat istana di surga.

Jeritan Mayat dan Alat Penyiksa

Bara ibn Azib mengatakan bahwa Nabi bersabda, ketika orang yang tidak beriman mengungkapkan ketidak tahuannya, terdengar sebuah suara dari langit bahwa ia telah berbohong, dan karenanya api neraka yang membara telah dikobarkan untuknya. Dia akan diselimuti pakaian api, pintu neraka akan dibuka, dan akan melewati panasnya neraka. Kuburnya akan mengerut sedemikian rupa, sehingga satu sisi rusuknya menusuk sisi yang lain, kemudian penjaga yang buta dan tuli ditempatkan untk menyiksanya, penyiksa memiliki sebuah gada besi yang sangat berat sehingga sekali pukul dapat membuat sebuah gunung menjadi bubuk. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ketika penjaga memukul jenazah dengan gada besi, ia menjadi debu dan suara yang dikeluarkan akibat dari pukulan terdengar semua makhluk hidup dari barat sampai ke timur, kecuali manusia dan jin. Setelah itu, tubuhnya dipulihkan lagi.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ketika jenazah dipukul dengan gada besi, ia berteriak sangat keras sehingga selain manusia dan jin, segala sesuatu didekat kubur mendengar jeritan itu.
Timbullah pertanyaan di sini, apa alasannya jeritan orang yang meninggal dan suara pukulan gada  besi tidak terdengar oleh manusia dan jin? Jawabannya adalah manusia dan jin belum masuk ke alam barzakh. Jika mereka tahu siksaan yang ditimpakan pada jenazah lebih dulu atau jika mereka mendengar jeritan jenazah, sangat mungkin mereka percaya akan kebenaran wahyu dan mulai mengerjakan kebaikan. Tuhan lebih menyukai kepercayaan kepada yang gaib, yaitu percaya kepada apa yang telah didengar pada Nabi, tidak peduli apakah dia mengerti alasannya atau tidak. Inilah yang disebut “iman”.
Sesungguhya ampunan dan pahala adalah bagi mereka yang takut kepada Tuhannya tanpa melihat-Nya.

Jika mereka diperlihatkan apa yang terjadi di neraka, di surga, dan di barzakh, di dunia ini, maka keimanan terhadap yang gaib tak lagi mempunyai arti. Karena secara alami manusia percaya kepada yang dilihat mata, mereka akan mudah  percaya terhadap apa yang dilihatnya. Tapi Tuhan tidak suka terhadap orang-orang yang percaya hanya karena melihat dengan matanya. Karena alasan inilah, keimanan pada saat datangnya kematian tidak dapat diterima.  Sebab ketika itu, orang yang sedang sekarat dapat melihat para malaikat yang menimpakan azab. Dalam surah al-Mu’min dikatakan: “Maka iman mereka tidak berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa kami.” (Q.S. 40: 85). Pada hari kebangkitan ketika mereka melihat surga dan neraka, mereka menyarakan keimanan kepada Allah dan menyarakan kebenaran ajaran Rasul, tetapi keimanan meraka tidak berguna sama sekali.

Jawaban yang lain mengapa manusia tidak mendengar teriakan dalam kubur adalah karena mereka tidak tahan terhadap jeritan yang menyayat hati. Jika mereka harus menyaksikan azab kubur atau mendengar jeritannya, mereka akan pingsan. Abu Said mengatakan  bahwa Nabi bersabda: ketika orang-orang mengusung peti mati orang yang tidak beriman, dia berkata: “celakalah aku. Hendak kemana kalian bawa aku?” suaranya terdengar semua makhluk kecuali manusia. Sekiranya seseorang mendengar jeritannya, dia akan pingsan.


Tuhan semesta alam bukan saja memberi tahu Nabi rahasia barzakh. Tetapi juga menunjukkan semua hal tentangnya, karena beliau memiliki daya tahan yang luar biasa. Sedemikian kuatnya dia tahan itu, sehingga pemandangan neraka tidak mengganggu beliau, sekalipun itu beliau sedang tertawa, berbicara, berjalan,  duduk atau makan bersama sahabatnya.  Abu Ayub mengatakan bahwa suatu hari setelah matahari terbenam, Nabi pergi keluar (Madinah) dan mendengar suara mengerikan, beliau bersabda: “Orang-orang yahudi sedang disiksa di dalam kuburnya.”

Zaid ibn Tsabit mengatakan bahwa mereka menemani Nabi yang sedang berkuda pergi ke sebuah kebun milik satu suku (Bani Najjar). Dalam perjalanan, kuda itu menjadi tidak dapat dikendalikan di dekat suatu tempat di mana ada lima atau enam kubur. Nabi bertanya kepada sahabatnya. Jika ada diantara mereka mengenali jenazah-jenazah yang terbaring di dalam kubur itu. Salah satu dari sahabat beliau mengatakan bahwa dia kenal. Nabi bertanya kapan mereka meninggal. Dia menjawab bahwa mereka meninggal di masa jahiliyah. Nabi mengatakan bahwa para penghuni kubur itu sedang disiksa. Baca : "Kengerian Kubur"

Demikian kisah renungan mengenai "Jeritan Mayat dan Alat Penyiksa" baca juga "Penyerahan diri seorang perempuan". Jangan lupa di share ya..

Malaikat Maut Mendatangi Rumah Setiap Hari

Diriwayatkan dari Hasan bahwa malaikat maut mengunjungi setiap rumah tiga kali sehari. Malaikat maut mencabut nyawa seseorang, lalu anggota keluarganya berdukacita, atas kematiannnya. Malaikat itu kemudian berdiri di depan pintu rumah sambil berkata bahwa dia tidak dapat dipersalahkan, karena dia hanyalah menuruti perintah dari Allah. Dia bersumpah demi Allah bahwa dia tidak mungkin merampas kehidupan seseorang, tidak juga meperpendek umurnya, atau memotong masa hidupnya. Lalu dia meneruskan perjalanannya, mengunjungi rumah-rumah sampai dia mencabut lagi nyawa dari penghuninya.

Hasan juga mengatakan bahwa jika anggota keluarga orang yang ditinggalkan melihat malaikat maut dan mendengar kata-katanya, mereka akan melupakan jenazah itu dan mulai menangisi diri mereka sendiri. (Marozi, Ibn Abi Dunya, Abu asy-syaikh)

Penyerahan Diri Seorang Perempuan

Dan bersegerahlah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. 3: 133-134).
           

Para ulama menulis bahwa sebagian orang dipenuhi rasa iri pada hak istimewa Bani Israil, sehingga jika salah seorang diantara mereka melakukan dosa, diwajibkan bertaubat atas dosanya dengan cara memberlakukan hukuman pada dirinya, yaitu memotong hidung atau telinganya, di mana hukuman itu  tertulis di atas pintu rumahnya. Ini adalah keyakinan Bani Israil bahwa jika pendosa menebus dosanya, dia telah diselamatkan dari dosa yang dilakukannya. Mereka dapat memperhatikan terhadap satu kesalahan. Sehingga mereka berpikir hukuman semacam itu lebih ringan dibanding hukuman di akhirat. Kisah ini dimuat dalam beragam kitab hadis yang memberikan kesaksian positif terhadap fakta bahwa setelah melakukan perbuatan dosa, pelaku dosa akan merasa takut. Bukan saja orang laki, orang perempuan juga mengalami perasaan yang sama. Seorang perempuan diriwayatkan telah bersalah karena melakukan perzinaan. Ia datang kepada Nabi dan mengakui dosanya di hadapan beliau. Dengan semangat ingin dibersihkan dosanya, dia rela menerima hukuman rajam. Akibatnya dia dilempari batu sampai mati. Dia melakukan hal itu karena merasa takut dengan dosa yang dilakukannya.